Indonesia Wonder

Loading
English Version | Bahasa Indonesia
Sabtu, 20 September 2014

Museum A.H. Nasution

Publish 01-01-1970 07:00:00 by Admin
Rating : 0 ( 0 )

A. Selayang Pandang

Jenderal Besar A.H. Nasution adalah salah satu tokoh penting dan bersahaja bagi militer Indonesia. Sampai akhir hayatnya, 6 September 2000, A.H NAsution tidak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Untuk menghargai perjuangan dan idealisme A. H Nasution tersebut, sejak tanggal 3 Desember 2008, rumah A.H Nasution Di Jalan Teuku Umar Jakarta, diresmikan menjadi sebuah museum Presiden Susilo bambang Yudhoyono. 

Kebesaran Jenderal A.H Nasution yang lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara ini, selalu dikaitkan dengan dengan peristiwa usaha penculikan yang dilakukan oleh Pasukan Tjakrabirawa yang sudah terkontaminasi oleh ideologi PKI. Sepenggal kisah itu, juga dihadirkan di Museum Nasution.

Di kediamannya inilah, 43 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 1 Oktober 1965, telah terjadi peristiwa dramatis dimana PKI dengan gerakan 30 September, berupaya menculik dan membunuh Pak Nas yang saat itu menjabat sebagai Menko Hankam atau KSAD. Dalam serangan tersebut, A.H. Nasution berhasil menyelamatkan diri dan luput dari pembunuhan berencana. Tetapi, Ade Irma Suryani Nasution yang merupakan putri keduanya beserta ajudannya Lettu Czi Piere Tendean gugur dalam peristiwa tersebut.

Di museum ini terdapat benda-benda peninggalan pak Nas yang tergolong memiliki nilai-nilai dan historis yang tinggi. Sehingga perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Diantaranya, ruang tamu, meja kerja yang selalu digunakannya sebelum meninggal,ruang kuning yang merupakan ruangan kesayangannya untuk menerima tamu VIP, ruang senjata berisikan senjata-senjata koleksinya, sampai ruang kamar tidurnya yang menjadi saksi bisu kejadian 43 tahun lalu.

Berbagai seragam, piagam-piagam penghargaan baik dari dalam dan luar negeri dapat ditemui di museum ini. Juga barang-barang kesayangan Ade Irma, yaitu sebuah seragam Kowad mini, sepasang sepatu, tas kulit kecil, tempat air minum plastik dan boneka, serta baju yang digunakan Ade Irma saat tragedi, terlihat masih terawat baik. Juga terdapat diorama maupun relief yang menceritakan sejarah perjalanan hidup seorang Jenderal Besar Abdul Harris Nasution.

B. Keistimewaan

Bertempat di Jalan Teuku Umar Nomor 40, Jakarta Pusat, museum ini bisa menjadi alternatif tempat wisata sejarah yang layak dikunjungi. Museum ini merupakan tempat kediaman resmi keluarga A.H Nasution yang disulap menjadi tempat penayangan sejarah. Secara keselutuhan, museum ini terdiri dari rumah utama dan paviliun, yang berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 2000 meter persegi. Tak ada yang berubah dari rumah tersebut, kecuali pengecetan ulang dinding maupun jendela dan pintu rumah.

Rumah utama merupakan sentral dari museum. Ada delapan ruangan yang terdapat di rumah tersebut. Ruang tamu utama terletak di bagian depan rumah. Patung tembaga setengah badan Jenderal Besar AH Nasution menyambut pengunjung. Ruangan berukuran sekitar 6×4 meter dilengkapi dua set kursi. Pada sisi kiri terdapat kursi ukiran Jepara dan dipermanis dengan dua guci raksasa di pojokan. Satu set kursi kaki rendah berbentuk setengah lingkaran diletakkan di sisi kanan ruangan yang juga berfungsi menjadi kursi tamu. Beberapa plakat kenang-kenangan dari luar negeri dipajang di lemari kaca.

Memasuki bagian dalam rumah, terdapat ruang kerja AH Nasution. Di ruang ini terdapat enam susun yang menampung buku-buku koleksi AH Nasution. Terdapat pula diorama yang menggambarkan Pak Nas, sedang bekerja di meja kerjanya yang bergaya antik. Telepon khas jaman dulu ditambah koleksi mesin ketik melengkapi meja tulis. Beranjak ke samping kanan, terdapat ruang tamu VIP dengan satu set kursi sofa. Gaya simpel menjadi pilihan ruang tamu yang disebut sebagai ruang kuning ini. Aksesori berbentuk harimau dipajang mempermanis ruangan. Di ruangan ini juga terdapat foto A.H Nasution yang dipajang di dinding, baik ketika ia masih muda ataupun saat usia senja.

Memisahkan ruang kuning dan ruang kerja, terdapat lorong panjang hingga ke ruang makan. Tiga patung anggota pasukan cakrabirwa beradegan mendobrak kamar tidur Pak Nas ada di lorong tersebut. Patung itu menggambarkan adegan usaha penculikan. Lima lubang bekas peluru di daun pintu masih dibiarkan seperti aslinya untuk menunjukkan sejarah pemberontakan PKI. Di dalam ruangan, terdapat istri Pak Nas yang sedang memangku Ade Irma Suryani yang berlumuran darah. Di kamar tersebut juga ikut dipajang barang-barang pribadi Pak Nas, seperti kaus oblong, kursi goyang, dan kursi roda yang digunakannya saat sakit.

Ada pintu langsung yang menghubungkan kamar Pak Nas dan kamar Ade Irma. Kamar Ade Irma menampung potretnya, baik bentuk lukisan maupun potret hitam putih sebagai kenang-kenangan. Sebuah lemari menampung benda pribadinya, yakni sepasang sepatu hitam, boneka, tas, dan seragam Kowad berpangkat Serda. Ada pula foto Ade Irma dan Piere Tendean, salah satu pahlawan revolusi, yang diambil seminggu sebelum kejadian.

Terakhir adalah ruang makan yang juga menampilkan cuplikan adegan dari penggerebekan Tjakrabirawa. Digambarkan lima orang berbaret merah menodongkan senjata kepada Bu Nas yang memangku Ade Irma.

C. Lokasi

Museum A.H Nasution terdapat di Jalan Teuku Umar No 40, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta.

D. Akses

Museum Jenderal Besar A.H. Nasution ini dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Bagi wisatawan yang menggunakan jalur angukutan umum, dapat menggunakan moda busway koridor III dengan trayek Padarintcang-Jalan. Teuku Umar. Dari halte busway Jalan Teuku Umar, wisatawan dapat berjalan kaki menuju lokasi museum.

Sementara itu, bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi, dapat langsung menuju destinasi museum, yakni Jalan Teuku Umar no. 40. Jalan tersebut berada di sebelah Barat Laut kawasan Menteng. Museum ini hanya terletak beberapa meter dari Taman Teuku Umar Jakarta Pusat.

E. Harga Tiket

Museum Jenderal Besar A.H Nasution ini tidak memungut biuaya masuk serupiah pun. Pengunjung dapat masuk museum dengan gratis. Museum sejarah ini terbuka untuk umum, dan dibuka setiap hari Senin sampai hari Jumat mulai pukul 08.00 sampai pukul 14.00 WIB. Sedangkan bagi pengunjung yang berencana datang pada Sabtu dan Minggu, bisa menghubungi informasi museum terlebih dahulu.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Bagi wisatawan yang ingin menginap maupun menyantap kudapan, di sekitar museum tersebar berbagai jenis hotel dan restoran maupun kafe.

Adi Tri Pramono

__________

Foto: http://en.wikipedia.org



Dibaca : 526 kali.

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.

Komentar - komentar

Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.indonesiaWonder.com/
Komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
   
 
* = Harus diisi