Indonesia Wonder

Loading
English Version | Bahasa Indonesia
Sabtu, 19 April 2014

Musik Kolintang

Publish 06-06-2012 11:09:00 by Admin
Rating : 0 ( 0 )

A. Selayang Pandang

Kabupaten Minahasa merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Utara yang dikenal memiliki potensi budaya sangat besar. Salah satu potensi budaya tersebut berujud sebuah alat musik tradisional yang bernama Kolintang. Alat musik ini telah dikenal tak hanya di Sulawesi Utara dan Indonesia saja, melainkan juga mancanegara. Alat musik yang terbuat dari kayu ini sering dibawa dalam misi kebudayaan ke berbagai negara di dunia.

Alat musik pukul ini merupakan produk kerajinan tangan yang menarik. Di tangan pengrajin, satu set alat musik Kolintang dibuat antara tiga minggu hingga satu bulan. Bahan untuk Kolintang adalah kayu lokal Minahasa yang ringan namun kuat dan berserat pararel, seperti kayu telur, wenang, kakinik, bandaran, waru gunung, dan cempaka. Di antara kayu-kayu tersebut, bahan terbaik untuk Kolintang adalah kayu waru gunung dan cempaka.

Asal usul nama “Kolintang” berasal dari bunyi kayu yang dipukul sehingga menghasilkan suara “tong-ting-tang”. Bunyi “tong” berasal dari nada rendah, “ting” dari nada tinggi, sedangkan “tang” dari nada biasa. Pada awalnya, penduduk setempat lazim menggunakan istilah ajakan Mangemo Kumolintang atau Maimo Kumolintang untuk bermain “tong-ting-tang”. Lambat laun, istilah ini berubah menjadi ajakan bermain Kolintang.

Pada awalnya, para pemain Kolintang duduk berselonjor dan memukul kayu yang diletakkan berjejer di atas kaki mereka. Namun, cara memainkan Kolintang berubah ketika rombongan Pangeran Diponegoro datang ke Minahasa untuk menjalani hukuman pengasingan pada tahun 1830. Rombongan tersebut membawa beberapa instrumen alat musik tradisional seperti gambang. Masuknya instrumen gambang mengubah cara memainkan Kolintang, dari sebelumnya duduk dan menjejerkan kayu di atas kaki, menjadi membuat kotak kayu yang terinspirasi dari gambang dan meletakkan bilah kayu di atas kotak tadi. Cara memainkan Kolintang juga tidak lagi duduk melainkan berdiri.

Usai Perang Dunia Kedua terjadi perkembangan dalam alat musik Kolintang. Nelwan Katuuk mempelopori penyusunan nada Kolintang sesuai dengan susunan nada musik universal yang awalnya hanya terdiri dari satu melodi dengan susunan nada diatonis berjarak 2 oktaf. Sebagai pengiring dipakai alat musik bergenre string seperti okulele dan gitar. Perkembangan Kolintang juga tak lepas dari peranan Petrus Kaseke. Sejak 1954, Petrus terus menerus mengembangkan nada Kolintang hingga menjadi 6 oktaf sebagaimana yang sekarang biasa dimainkan.

Perkembangan Kolintang telah membawa angin segar bagi perkembangan budaya, khususnya seni tradisional, dan pariwisata pada umunya. Kolintang menjadi instrumen wajib untuk mengiringi pertunjukan musik tradisional Minahasa. Selain itu, Kolintang juga menjadi salah satu andalan koleksi di banyak Kedutaan Besar Indonesia di mancanegara sebagai representasi kekayaan budaya dan alat musik tradisional asli Indonesia.

B. Keistimewaan

Era 1989 hingga 1990-an merupakan periode emas untuk perkembangan Kolintang karena alat musik ini sangat populer, baik di dalam maupun di luar negeri. Kala itu hampir semua Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di luar negeri mengoleksi Kolintang. Pesanan bagi para pengrajin Kolintang juga cukup banyak, sekitar 10 set per bulan, untuk melayani konsumen dari beberapa negara seperti Australia, Cina, Korea, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat.

Selain kebanjiran peminat, Kolintang juga tercatat telah merambah ke dunia musik orkestra. Salah satunya menjadi instrumen dalam Twilite Orchestra pimpinan Addie MS. Bahkan, komposer dan pemusik intrumental sekaliber Kitaro dari Jepang menaruh perhatian yang besar dan mengaku sangat tertarik pada bunyi Kolintang.

Kolintang tercatat pernah meraih rekor di Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan kategori permainan Kolintang secara massal yang melibatkan 200 buah Kolintang. Acara tersebut dihelat di Sport Mall, Jakarta pada 16 September 2006. Rekor yang tercatat di Jakarta tersebut akhirnya tumbang setelah 585 buah Kolintang dapat dimainkan secara massal di kawasan MCC atau Boulevard Mall Manado pada Kamis, 2 Agustus 2007.

Selain MURI, Kolintang juga pernah mencatatkan prestasi memecahkan 2 rekor The Guiness Book World of Records dalam kategori permainan musik kolintang massal dengan peserta terbanyak, yaitu 1.223 orang dan instrumen Kolintang terbesar di dunia dari kayu cempaka berukuran 8 x 2,5 x 2 meter, berat 3.168 kilogram, dan volume bahan 13,7 m³. Pemecahan rekor tersebut dihelat pada Sabtu, 31 Oktober 2009 di Stadion Maesa Tondano, Minahasa.

Kolintang tak hanya menyampaikan kebudayaan tapi juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sulawesi Utara. Berbagai acara keramaian yang digelar di Sulawesi Utara, khususnya di Minahasa senantiasa melibatkan pertunjukan Kolintang sebagai pengiring acara. Kedekatan masyarakat dengan alat musik ini menjadikan Kolintang sebagai gaya hidup, dilihat dari sisi budaya.

C. Lokasi

Pertunjukan Kolintang masih bisa dengan mudah ditemukan di berbagai wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Minahasa, Tondano, dan Manado. Pertunjukan Kolintang biasanya dihelat dalam acara pernikahan, peresmian, syukuran, keagamaan, penyambutan tamu, hingga pertandingan. Kolintang biasanya digunakan sebagai instrumen pengiring dari penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu daerah dalam sebuah acara.

E. Harga

Satu set alat musik Kolintang yang terdiri dari melodi, pengiring, celo, dan bass berharga sekitar Rp. 25 juta. Harga tersebut sebenarnya masih bisa berubah tergantung dari kualitas bahan pembuat dan jumlah alat musik dalam satu set Kolintang. Sedangkan di pasaran, harga jual Kolintang per satuan juga bervariasi disesuaikan dengan ukuran dan kualitas bahan pembuat. Kisaran harga umum kolintang dengan tipe kecil berukuran 25x7x5 cm berharga Rp. 55.000,00, sedangkan  tipe sedang berukuran 34x6x8 cm berharga Rp. 65.000,00. (Tunggul Tauladan/01/02-2012)

 

Dari berbagai sumber

Sumber foto:

·          http://alfian.sman1pramb-yog.sch.id/musik/wacanamusika/indekswacanamusika/alatmusik/kolintang.htm

·          http://www.kompas.com/data/photo/2009/11/01/3554726p.jpg

·          http://www.cybersulut.com/index.php?document_srl=5682995&mid=BudayaSulut&listStyle=viewer



Dibaca : 503 kali.

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.

Komentar - komentar

Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.indonesiaWonder.com/
Komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
   
 
* = Harus diisi