Indonesia Wonder

Loading
English Version | Bahasa Indonesia
Kamis, 24 April 2014

Keraton Ismahayana Landak

Publish 23-11-2009 13:48:41 by Admin
Rating : 0 ( 0 )

A. Selayang Pandang

Keraton Ismahayana Landak memiliki kronik sejarah yang relatif panjang. Kisah itu berawal pada tahun 1275 M di mana Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, Jawa, mengirim para prajurit untuk memperluas kekuasaannya hingga ke kawasan Sumatra Tengah. Muhibah ini dikenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu. Ekspedisi Pamalayu berlangsung hingga tahun 1292 M. Ketika para punggawa dan prajurit ekspedisi ini harus kembali ke tanah Jawa lantaran Raja Kertanegara wafat, Ratu Sang Nata Pulang Pali I, pemimpin salah satu rombongan, membelokkan armada pasukannya menuju Nusa Tanjungpura, yang kini dikenal sebagai Borneo atau Pulau Kalimantan.

Di pulau yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia ini, rombongan tersebut awalnya singgah di daerah Padang Tikar, kemudian menyusuri Sungai Tenganap, dan akhirnya berlabuh di daerah Sekilap atau yang disebut juga Sepatah. Di tempat inilah, Ratu Sang Nata Pulang Pali I mendirikan Kerajaan Landak, dan nama Sekilap kemudian diganti menjadi Ningrat Batur atau Angrat (Anggerat) Batur.

Periode pemerintahan Kerajaan Landak di Ningrat Batur berlangsung 180 tahun (1292—1472 M) lamanya. Selama di Ningrat Batur, kerajaan ini dipimpin oleh tujuh raja, yaitu Ratu Sang Nata Pulang Pali I hingga Abhiseka Ratu Brawijaya Angkawijaya (Ratu Sang Nata Pulang Pali VII). Pada masa pemerintahan Ratu Sang Nata Pulang Pali VII, Kerajaan Landak memiliki kompleks istana terpadu. Di istana ini, beliau menikahi Putri Dara Hitam yang kemudian menjadi permaisuri kerajaan. Dari perkawinan tersebut, Ratu Sang Nata Pulang Pali VII memiliki keturunan bernama Abhiseka Sultan Dipati Karang Tanjung yang sekaligus merupakan putera mahkota. Setelah raja Landak terakhir di Ningrat Batur tersebut mangkat, sang putera mahkota kemudian naik tahta dan bergelar Pangeran Ismahayana (memerintah tahun 1472—1542).

Pada era pemerintahan Pangeran Ismahayana, pusat kerajaan dipindahkan ke area hulu Sungai Landak, yang kemudian dikenal dengan nama  Mungguk Ayu. Pada masa inilah pengaruh Islam mulai masuk. Pangeran Ismahayana kemudian memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Abdul Kahar. Setelah Pangeran Ismahayana wafat, ia digantikan oleh putranya, yaitu Pangeran (Raden) Kusuma Agung Muda, yang menjadi Sultan Landak ke IX. Pada masa pemerintahannya, pusat kekuasaan dipindahkan dari daerah  Mungguk Ayu menuju Bandong (sebagian menyebutnya Bandung) pada tahun 1703, sebuah wilayah yang letaknya tidak jauh dari Mungguk Ayu.

Kesultanan Landak di Bandong hanya bertahan hingga dua periode pemerintahan (1703—1768). Tampuk kekuasaan hanya sempat dipegang oleh Raden Kusuma Agung Muda (1703—1709) dan putranya, Raden Nata Tua Pangeran Sanca Nata Kusuma Tua (1714—1764). Sepeninggalan Raden Nata Tua, jalannya pemerintahan untuk sementara dikendalikan oleh wakil raja, yakni Raden Anom Jaya Kusuma (1764—1768), sembari menunggu sang putera mahkota tumbuh dewasa.

Tatkala usia pemerintahan peralihan ini belum genap 4 tahun, ibu kota kesultanan dipindahkan dari Bandong ke Kota Ngabang pada tahun 1768 oleh wakil raja tersebut. Kesultanan Landak kemudian menetapkan Kota Ngabang sebagai ibu kota yang baru pada tahun 1768. Peristiwa hijrah ke Ngabang ini sekaligus mentahbiskan putera mahkota, Raden Nata Muda Pangeran Sanca Nata Kusuma, sebagai Sultan Landak XII (1768—1798).

Lembaran baru Kesultanan Landak di Ngabang ternyata tidak membawa kemajuan yang berarti hingga hampir dua abad lamanya. Terlebih pascakedatangan Belanda di Borneo. Menyadari mandeknya perkembangan kesultanan selama itu disebabkan oleh Belanda, Sultan Landak beserta rakyatnya kemudian melakukan pemberontakan. Beberapa perlawanan ketika itu antara lain: pemberontakan Ratu Adil (1831), pemberontakan Gusti Kandut (1890), dan pemberontakan Gusti Abdurrani (1899). Memasuki masa kemerdekaan, posisi Kesultanan Landak tak kunjung membaik lantaran kesultanan ini hanya dijadikan simbol budaya, sehingga vakum dalam waktu yang lama.

Setelah mengalami kevakuman tampuk kepemimpinan yang cukup lama, baru pada tahun 2000, atas persetujuan rakyat Landak, Kesultanan Landak dibangunkan dari tidurnya yang panjang dengan Gusti Suryansyah Amiruddin sebagai sultannya. Jika dirunut dari awal, Gusti Suryansyah merupakan sultan ke-39 semenjak Kerajaan Landak berdiri.


Drs. Gusti Suryansyah Amiruddin, M.Si.

Beliau mewarisi bangunan istana Kesultanan Landak di Ngabang yang terdiri dari tiga bagian, yakni: (1) kompleks istana mencakup: Istana Landak (Istana Ilir), Kediaman Permaisuri (Istana Ulu), serta Kediaman Neang Raja (rumah sultan); (2) Masjid Djami Keraton Landak; dan (3) makam raja-raja. Istana ini mulai dipugar dan direnovasi kembali sekitar tahun 1950-an dan 1960-an setelah peristiwa kebakaran yang mengakibatkan kerusakan pada beberapa bagian istana. Selain itu, perbaikan bangunan telah beberapa kali dilakukan oleh pemerintah daerah, seperti renovasi yang dikerjakan selama 4 tahun (1978—1982) dan diresmikan oleh Haryati Subadio, Dirjen Kebudayaan kala itu, pada tanggal 4 Oktober 1983. Sementara, kondisi kompleks Keraton Landak saat ini merupakan hasil renovasi sekitar tahun 2000-an.

B. Keistimewaan

Mengunjungi istana ini terbilang istimewa, lantaran Anda bukan hanya dapat menikmati kekhasan seni rancang-bangun rumah panggung Istana Kesultanan Landak, melainkan juga koleksi-koleksi bendawi yang bernilai sejarah yang dipajang di sana. Selebihnya, Anda pun dapat menikmati keindahan Sungai Pinyuh dari gardu pandang istana yang terletak tidak jauh dari halaman Istana Ilir. Namun, sebelum itu, ada baiknya bila Anda menilik seperti apa istana dan juga sejarah yang menaungi Kerajaan Landak dengan berkeliling kompleks istana terlebih dahulu.

Istana Landak di Ngabang yang dibangun menghadap ke Sungai Pinyuh ini berupa rangkaian rumah panggung khas Melayu Kalimantan Barat yang memanjang ke belakang. Istana ini memiliki fondasi, lantai dan dinding, serta atap sirap dari kayu belian sebagai bahan utamanya. Bangunan istana yang memiliki kombinasi bentuk atap pelana dan limasan ini terdiri atas dua bagian, yaitu balairung atau tempat pertemuan (bagian depan) dan tempat tinggal sultan (bagian belakang). Kedua bagian istana tersebut dihubungkan oleh selasar yang juga terbuat dari kayu belian.

Keraton ini kini berlaku sebagai museum, tempat memamerkan koleksi-koleksi bendawi peninggalan sultan-sultan sebelum Gusti Suryansyah Amiruddin. Tempat memajang segala benda bersejarah peninggalan Kerajaan Landak masa lampau berada di Istana Ilir. Sementara, Istana Ulu berfungsi sebagai tempat tinggal para kerabat sultan. Museum ini terdiri dari empat ruangan di mana masing-masing menampilkan jenis yang berbeda dari keseluruhan koleksinya.

Ruang pertama merupakan ruang yang dulunya dipakai untuk menerima para tamu kerajaan. Di sini, Anda akan mengenal bagaimana sejarah dan perkembangan Kerajaan Landak secara singkat. Pemandu akan menceriterakan pada Anda bagaimana sepak-terjang para sultan dan rakyatnya di masa lampau. Atau, Anda juga dapat membacanya pada Lontar Sejarah Singkat Kerajaan Landak yang dipampang di salah satu dinding ruangan yang dipercantik dengan dua perangkat meja-kursi ini. Selain itu, di tempat ini Anda juga dapat mengenal lebih jauh siapa saja raja yang pernah memerintah dan bagaimana silsilahnya.

Selanjutnya, Anda akan diajak sang pemandu untuk memasuki ruang kedua atau ruang tengah di mana pada masa lalu ruang ini berfungsi sebagai tempat singgasana raja dan permaisurinya. Sekarang, di tempat ini Anda dapat menyaksikan pelbagai dokumentasi foto kerabat raja. Sajian dokumentasi kerajaan berupa foto-foto berbagai peristiwa di masa lalu yang dibingkai apik dan tersusun mengelilingi dinding dari kayu belian. Di salah satu sisi ruangan, terpajang dengan rapi replika singgasana raja dan permaisuri dengan warna yang cerah bernuansa Melayu (kuning keemasan dan hijau) beserta panji-panji kerajaan yang berjajar di samping kanan dan kiri singgasana. Ruangan ini juga diperkaya dengan hiasan-hiasan rumah Melayu, seperti tirai jendela berwarna kuning dan lain sebagainya.


Koleksi Meriam "Sipenyuk" yang di simpan di salah satu ruangan di Keraton Ismahayana
Sumber Foto: Koleksi www.wisatamelayu.com (Fotografer: Khidir Marsanto)

Usai menyaksikan hal-hal di atas, pemandu akan menunjukkan koleksi peninggalan Kesultanan Landak yang tergolong sebagai warisan budaya dan sejarah. Di antaranya: Mahkota Sultan Landak, Keris Sikanyut, sepasang pedang sakti, tempat tidur panembahan dan isterinya, duplikat payung kebesaran sultan, dua kipas raja, seperangkat gamelan, dan Al Quran kuna. Selain itu, ada juga artefak-artefak lain seperti: Meriam Sipenyuk dan empat buah meriam lainnya, lontar silsilah raja dan sejarah singkat Kesultanan Landak, foto-foto keluarga sultan, bendera kesultanan, serta perlengkapan upacara perkawinan adat berupa timbangan dari kayu.

Di utara istana, berdiri Masjid Djami‘ Keraton Landak yang hingga kini masih terawat dengan baik. Masjid ini dibangun oleh Panembahan Gusti Abdulazis Kusuma Akamuddin (1895—1899). Selain itu, di kompleks Keraton Landak juga terdapat makam raja-raja dan para kerabatnya yang terletak + 100 m di barat Masjid Djami‘ Keraton Landak. Oleh sebagian orang, kompleks pemakaman ini dianggap keramat dan bertuah lantaran dapat mendatangkan berkah. Makam ini khas, dengan bentuk nisan yang menandakan perbedaan antara makam laki-laki dan perempuan. Nisan berbentuk bulat untuk laki-laki, sedangkan makam perempuan bernisan pipih.

Usai menjelajah kompleks istana, tentunya Anda akan diajak mampir ke Gardu Pandang. Gardu Pandang istana ini berada tepat di bantaran Sungai Pinyuh. Tempat ini dulunya berfungsi semacam terminal untuk perahu-perahu para tamu sultan Landak. Di sini, sembari berelaksasi, Anda bisa menyaksikan indahnya pemandangan air sungai yang mengalir pelan dan pohon-pohon yang rimbun.

C. Lokasi

Istana Landak terletak sekitar 50 meter di sebelah barat Sungai Pinyuh yang membelah Kota Ngabang. Keberadaan sungai yang masih difungsikan oleh masyarakat setempat sebagai jalur transportasi air ini, menuju ke arah Mungguk. Keraton atau Istana Kesultanan Landak terletak di Jalan Pangeran Sancanata, Kota Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

D. Akses

Dari terminal bus di Ibu Kota Kabupaten Landak, Ngabang, wisatawan dapat naik ojek yang berada di sekitar terminal dengan ongkos sekitar Rp 10.000,- untuk menuju ke Jalan Pangeran Sancanata (November 2008). Sesampainya di jalan ini, Anda dapat langsung melihat kompleks Keraton Landak yang terletak di tepi jalan.

E. Harga Tiket

Wisatawan tidak dipungut biaya alias gratis. Kendati demikian, diharapkan pengunjung memiliki kesadaran untuk memberikan sedikit uang sebagai biaya perawatan dan fasilitas pemandu selama berwisata di istana ini.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Sebagai bagian dari layanan kunjungan ke kompleks istana ini, pelancong akan mendapatkan pelayanan pemandu wisata. Sang pemandu, yang notabene masih kerabat Keraton Landak, akan menuturkan berbagai kisah dengan baik bagaimana sejarah keraton ini. Selain itu, wisatawan akan memperoleh keterangan-keterangan singkat mengenai seni rancang-bangun, koleksi, dan sebagainya.

Bagi Anda yang menyempatkan berziarah ke makam raja Landak di Ngabang, akan didampingi oleh seorang pemandu wisata sebagai rangkaian kunjungan ke Istana Ismahayana Landak. Dari pemandu ini, Anda akan memperoleh informasi pelbagai kisah tentang kompleks makam raja-raja dan beberapa kerabatnya.

Selain itu, juga tersedia kamar kecil dan masjid sebagai fasilitas wisatawan. Bila ingin mencari rumah makan dan penginapan, maka kunjungilah pusat Kota Ngabang yang berjarak + 2 km dari kompleks Keraton Landak ini. Di pusat kota, berbagai fasilitas yang memadai bagi wisatawan dapat dengan mudah ditemukan.

(Diolah dari reportase lapangan/Khidir Marsanto/wm/34/11-08)

__________

Sumber Foto: Koleksi WisataMelayu.com (Fotografer: Aam Ito Tistomo)

Informasi lain tentang Keraton Ismahayana Landak bisa anda baca di sini



Dibaca : 391 kali.

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.

Komentar - komentar

Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.indonesiaWonder.com/
Komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
   
 
* = Harus diisi